Fortifikasi Tepung Gandum

Bagaimana cara untuk meningkatkan tepung gandum? Penasaran jika itu bisa dan tidak tahu caranya?

wheat

Simak kutipannya:

Usaha untuk meningkatkan status gizi tepung gandum telah banyak dilakukan. Tiga pendekatan pokok yang telah diikuti adalah :

  1. Penambahan vitamin dan mineral. Pemberian vitmin B dan kalsium khususnya, pada tepung gandum sering dilakukan. Kadar penambahan yang khas diberikan dalam tabel berikut:

20151115_114035

  1. Tepung yang dikurangi patinya atau ditambah gluten, sering digunakan untuk pembuatan roti. Gluten seringkali ditambahkan saat adonan sedang dicampur. Kadar protein dalam roti yang dibuat dari tepung yang dikurangi patinya, biasanya sekitar 18% atau kira-kira dua kali lipat kadar protein biasa.
  2. Fortifikasi tepung dengan menggunakan protein seperti protein kedele, konsentrat protein ikan juga sering dilakukan terutama di Amerika Selatan. Protein-protein ini dari segi gizi merupakan unsur yang sering dikehendaki dalam tepung serealia, bukan hanya karena meningkatkan kandungan protein, tetapi juga karena protein-protein ini menaikkan kadar asam-asam amino, terutama lisin dalam tepung.

Protein-protein ini bila ditambahkan sampai sekitr 12% dari berat tepung, dapat merusak sifat-sifat rheologis tepung gandum, misalnya, volume roti kecil dan roti yang dibuat dari campuran tepung dan protein semacam itu mempunyai struktur remah. Hal ini dapat diatasi dengan menggunakan bahan tambahan seperti sodium, steroil-2-laktilat. Biskuit susu yang dibuat oleh pekerja-pekerja di Australia dan New Zealand menggunakan protein susu untuk melengkapi status gizi tepung gandum dalam bentuk biskuit.

[Buku Ilmu Pangan]

 

Ternyata tepung gandum dapat ditingkatkan nilai gizinya. Tertarik untuk mencoba?

 

Sumber:

  • Buckle, K.A., dkk. (1985). Ilmu Pangan. Jakarta: UI Press

Perdagangan Pangan di Dunia

Ingin bisnis di bidang pertanian? Lalu bagaimanakah bisnis di dunia? Lebih baik kita cari tahu dulu bagaimana lebih jelasnya.

Save-The-World-1080x1920

Kutipannya adalah:

Titik berat pada suplai bahan pangan ini khususnya pada suplai serealia di dunia secara tajam diperhatikan dalam tahun 1973, sesudah ada dua tahun panen yang kurang berhasil, di tahun 1971 dan 1972, karena cuaca yang kurang menguntungkan. Sebenarnya selama dua puluh tahun terakhir antara 1954 dan 1973, produksi bahan pangan secara menyeluruh turun hanya sekali dalam tahun 1972, dan hanya sebanyak 1,6%, tetapi cukup menurunkan persediaan serealia di dunia sampai tingkat terendah selama 20 tahun. Hal ini menyebabkan kenaikan harga biji-bijian, merusak pola perdagangan dan menghancurkan pertumbuhan kepercayaan akan suplai pangan di dunia yang telah muncul di saat sesudah tahun 1966 sebagai hasil revolusi hijau.

Akibat dari kenaikan harga biji-bijian dapat digambarkan oleh kenyataan bahwa di negara-negara berkembang, pengeluaran untuk bahan pangan dapat menyita 50% atau lebih dari pengeluaran konsumsi pribadi., dan serealia saja dapat mencapai 70% dari biaya semua makanan. Bagi orang-orang ini, kenaikan harga serealia sebanyak dua atau tiga kali lipat merupakan bencana yang berat, karena mereka hanya mempunyai sedikit pilihan untuk mengubah makanan selain hasil pertanian berzat pati. Di negara-negara maju – USA, Kanada, Eropa, dan Oceania – makanan terhitung sebnyak 15-30% dari pengeluaran konsumsi pribadi, serealia hanya merupakan sebagian kecil dari rupa-rupa makanan dan kenaikan harga serealia yang tinggi hanya mengakibatkan kesulitan yang relative kecil. Sesungguhnya di masyarakat yang berkecukupan hanya kira-kira sepertiga dari kalori total berasal dari biji-bijian serta produknya dibandingkan dengan diatas 60% dari sumber yang sama di negara-negara yang sedang berkembang.

Walaupun begitu, anehnya, ternyata konsumsi serealia setiap tahun per kapita di negara-negara maju adalah lebih dari 500 kg (Kanda mendekati 1000 kg) sedang di negara-negara yang sedang berkembang kurang dari 200 kg (dan mendekati 150 kg di antara negara-negara di Asia Tenggara). Penjelasan tersebut adalah bahwa 90% konsumsi biji-bijian di negara Kanada dan Amerika Serikat untuk ternak dan hanya 10% dikonsumsi manusia. Perlu diutarakan bahwa apabila tingkat pendapatan dan rasio harga antara serealia dan produksi ternak memungkinkan, biji-bijian diberikan kepada ternak dengan mengecualikan dua negara penghasil daging, satu negara maju dan satu negara sedikit maju, yaitu Australia dan Argentina, dimana padang rumput banya tersedia sehingga pemberian makan biji-bijian pada ternak tidak ekonomis. Tapi dalam arti luas kenaikan kemakmuran di Amerika Utara, Eropa Timur dan Barat, Uni Soviet, dan Jepang, dan kenaikan konsumsi produk ternak telah mengakibatkan kenaikan proporsi serealia dunia dan juga protein yang dikandungnya termasuk protein biji-bijian minyak yang banyak digunakan sebagai makanan ternak untuk memenuhi keutuhan produksi ternak di negara-negara tersebut.

Dengan demikian ada ketergantungan rangkap dunia terhadap serealia. Kekuatan negara-negara maju untuk menarik dan mengonsumsi lebih banyak bahan pangan dunia dan biji-bijian bersama-sama dengan cuaca yang menyebabkan menurunnya panen beras dan gandum dalam tahun 1972 telah mengakibatkan peledakan harga bahan-bahan pangan pokok saat ini dan oleh karenanya menggarisbawahi keadaan kritis dari produksi pertanian seluruhnya dan juga konsumsinya baik untuk jangka waktu pendek atau panjang.

Selanjutnya jumlah bahan pangan dalam perdagangan dunia, walau terjadi kenaikan dalam jumlah total, secara umum telah menurun sejak tahun 1930 dan asekarang jarang melebihi 10% dari total konsumsi pangan dunia.

[Buku Ilmu Pangan]

 

Sudah siapkah kita menghadapi tantangan bisnis ini?

 

Sumber:

  • Buckle, K.A., dkk. (1985). Ilmu Pangan. Jakarta: UI Press

Tanggung Jawab Industri

Industri tugasnya memproduksi? Ternyata tidak hanya itu, industri juga memiliki tanggung jawab di bidang lainnya. Banyak industri yang menerapkan ini.

800px-Tempat_penyimpanan_hasil_panen_berupa_biji-bijian

Berikut merupakan kutipan salah satu contoh industri:

TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN

Tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang dilakukan sepanjang tahun buku 2014 meliputi aspek pengelolaan lingkungan hidup, ketenagakerjaan, pengembangan sosial dan kemasyarakatan serta perlindungan terhadap konsumen.

Pengelolaan Lingkungan Hidup

Sebagai Perusahaan yang bergerak di bidang industri makanan, Perseroan memiliki potensi terjadinya pencemaran lingkungan yang mungkin disebabkan oleh limbah produksi Perseroan. Untuk mengantisipasi munculnya potensi pencemaran lingkungan hidup, maka Perseroan menerapkan sistem pengelolaan lingkungan dan senantiasa melakukan pemantauan lingkungan secara berkala.

Limbah Perseroan dapat dikategorikan menjadi:

  • Limbah Padat

Untuk mengelola limbah padat, Perseroan bekerjasama dengan pihak ketiga.

  • Limbah Cair

Sebagian besar pabrik Perseroan berlokasi didalam kawasan industri, oleh karena itu dalam mengolah limbah cair, Perseroan bekerjasama dengan pihak kawasan industri. Sementara itu untuk pabrik yang berlokasi di luar kawasan industri, Perseroan melakukan pengolahan limbah cair secara               mandiri dengan memperhatikan standar pengolahan limbah.

  • Debu dan Gas

Perseroan selalu menjaga lingkungan kerja Perseroan terbebas dari gangguan debu dan gas dengan cara membuat sistem sirkulasi yang baik sehingga sirkulasi udara dapat berjalan dengan baik.

  • Kebisingan

Tingkat kebisingan di area pabrik Perseroan berada dibawah ambang batas yang ditetapkan oleh Peraturan Menakertrans No. PER-13/MEN/X/2011 atau masih berada dibawah 85 dBA.

Dalam melaksanakan pengolahan limbah sebagaimana diatas, Perseroan senantiasa memperhatikan standar pengolahan limbah dan pelaksanaannya dilaporkan secara berkala kepada Badan Lingkungan Hidup.

Ketenagakerjaan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Sudah menjadi komitmen Perseroan untuk melindungi seluruh aset yang dimiliki Perseroan. Karyawan merupakan salah satu aset yang berharga bagi Perseroan, oleh karena itu Perseroan selalu berusaha untuk menaungi, melindungi dan meningkatkan kesejahteraan seluruh Karyawan. Perseroan melengkapi seluruh Karyawan dengan beragam program yang bermanfaat diantaranya Jaminan Kesehatan, Jaminan Hari Tua dan Jaminan Kecelakaan Kerja.

Selama berada di dalam lingkungan kerja, Perseroan senantiasa berusaha untuk menjamin kesehatan dan keselamatan Karyawan. Seluruh aktivitas operasional Perseroan dilandasi sistem dan prosedur yang telah tertata dengan baik sehingga dapat meminimalisasi terjadinya gangguan selama operasional berlangsung. Seluruh pabrik Perseroan pun telah dilengkapi dengan klinik dan tenaga paramedik yang profesional.

Upaya lain yang dilakukan untuk menjaga kesehatan Karyawan adalah dengan menyediakan fasilitas kantin yang dapat dipergunakan semasa waktu istirahat kerja. Kantin yang disediakan Perseroan menghidangkan beragam makanan yang dapat dikonsumsi oleh seluruh Karyawan Perseroan tanpa dipungut biaya. Makanan-makanan tersebut disediakan oleh pihak ketiga yang telah memiliki Sertifikasi Hygiene Makanan yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan, serta telah melalui seleksi ketat baik dari segi kelengkapan gizi, tingkat kehigienisan, kehalalan serta variasi menu yang dihidangkan.

Untuk menjaga keselamatan dan keamanan Karyawan selama beraktivitas, Perseroan memiliki satuan pengaman yang terlatih dan siap melindungi karyawan selama berada didalam area kerja Perseroan. Selain itu, area kerja Perseroan pun dilengkapi dengan sejumlah perlengkapan keamanan lainnya seperti smoke detector, alat pemadam api ringan (APAR), hydrant, jalur evakuasi yang jelas serta tim evakuasi yang handal.

Dalam rangka membantu meningkatkan kesejahteraan Karyawan, Perseroan bekerjasama dengan Serikat Pekerja Sukses (SPS) PT Nippon Indosari Corpindo, Tbk, yang dilakukan melalui beragam program kesejahteraan seperti fasilitas pinjaman kepada Karyawan untuk biaya pengobatan yang tidak ditanggung oleh pihak asuransi, bantuan kurban Idul Adha, dan bantuan bagi Karyawan yang tertimpa bencana alam. Sementara itu, khusus bagi Karyawan yang telah memiliki putra/putri usia sekolah, dapat bergabung didalam program Ayo Sekolah. Melalui program ini, Karyawan mendapatkan fasilitas bantuan pendidikan anak baik dalam bentuk dana maupun dalam alat penunjang pendidikan.

Penandatanganan PKB periode 2014 - 2016
Penandatanganan PKB periode 2014 – 2016

Pada Maret 2014, bersama dengan Serikat Pekerja Sukses, Perseroan melakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) periode 2014-2016. Penandatanganan PKB tersebut merupakan bentuk komitmen Perseroan dan Serikat Pekerja Sukses untuk selalu bergandengan tangan serta bahu membahu demi tercapainya kebaikan dan kesejahteraan bersama, khususnya dalam mewujudkan kesejahteraan Karyawan.

Pengembangan Sosial dan Kemasyarakatan

Sebagai Perusahaan Terbuka, Perseroan menyadari pentingnya peranan masyarakat dalam tumbuh kembang Perseroan. Oleh karena itu, Perseroan berupaya untuk dapat memberikan kontribusi lebih kepada lingkungan sosial dan masyarakat sekitar Perseroan.

Sepanjang tahun buku 2014, Perseroan melaksanakan sejumlah kegiatan untuk dapat membantu masyarakat dan lingkungan sekitar, diantaranya:

  • Bantuan berupa tas sekolah Sari Roti kepada 1.484 murid sekolah dan anak yatim piatu.
  • Bantuan kepada masyarakat korban banjir dibeberapa wilayah.
  • Bersama dengan pihak ketiga, Perseroan mengadakan beragam kegiatan kemasyarakatan seperti pengobatan gratis, penyuluhan kesehatan di sekolah-sekolah dan lain sebagainya.
  • Penyuluhan anti narkoba bersama BNN.

 

Penyuluhan Anti Narkoba bersama BNN
Penyuluhan Anti Narkoba bersama BNN

Perseroan pun ikut berpartisipasi dalam menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat melalui peluang peluang kewirausahaan sebagai distributor dan agen. Sampai dengan 31 Desember 2014, Perseroan telah memiliki ratusan distributor dan agen serta ribuan penjual roti keliling yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Tidak hanya sebatas menciptakan kesempatan kerja saja, melalui peluang kewirausahaan ini, Perseroan telah membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia sesuai dengan Misi Perseroan.

Perseroan pun terus membuka kesempatan kepada seluruh masyarakat yang ingin bergabung menjadi distributor maupun agen Perseroan. Untuk itu, Perseroan telah menyediakan fasilitas Mitra Usaha yang dapat diakses setiap saat melalui website resmi Perseroan www.sariroti.com.

Penyuluhan Kesehatan Gigi, SDN 02 Petang Kampung Melayu
Penyuluhan Kesehatan Gigi, SDN 02 Petang Kampung Melayu

 

Tanggung Jawab Produk dan Perlindungan Konsumen

Sudah menjadi komitmen Perseroan untuk mempersembahkan produk makanan bermutu tinggi, sehat, halal, dan aman untuk dikonsumsi oleh seluruh masyarakat Indonesia. Untuk menjamin kualitas dan kehigienisan produk yang dihasilkan, Perseroan menerapkan GMP (Good Manufacturing Practice), SSOP (Sanitation Standard Operating Procedures) dan HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point). Sistem-sistem tersebut membantu Perseroan dalam menjaga kualitas dan kehigienisan proses yang dilalui, mulai dari pemilihan bahan baku sampai dengan produk yang dihasilkan serta didistribusikan kepada Konsumen.

"Anak Indonesia Cinta Pahlawan Indonesia", Tugu Proklamasi, Jakarta
“Anak Indonesia Cinta Pahlawan Indonesia”, Tugu Proklamasi, Jakarta

Tidak hanya terjamin dari segi kualitas dan kehigienisan saja, Sari Roti pun terbukti aman untuk dikonsumsi. Hal ini dibuktikan dengan terdaftarnya produk Sari Roti di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan telah mendapatkan sertifikasi Halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Sebagai bentuk tanggung jawab dan perlindungan kepada Konsumen, Perseroan melengkapi setiap kemasan Sari Roti dengan informasi yang relevan yaitu:

  • Merek dan varian rasa.
  • Logo dan kode Halal MUI.
  • Kode Registrasi BPOM Republik Indonesia.
  • Kandungan, berat bersih, komposisi dan informasi nilai gizi.
  • Kode produksi dan batas akhir penggunaan produk.
  • Saran penyimpanan untuk memastikan kesegaran produk.

 

Selain itu, Perseroan menyediakan fasilitas SariRoti-Peduli sebagai jalur komunikasi yang dapat diakses setiap saat melalui website resmi Perseroan www.sariroti.com. Melalui fasilitas SariRoti-Peduli, Konsumen dapat secara langsung menyampaikan informasi seperti keluhan produk, saran, dan informasi lainnya.

http://www.sariroti.com/content/tanggung-jawab-sosial-perusahaan/

 

Bagaimana setelah menyimak tanggung jawab dari salah satu industri diatas. Bagaimana pun juga kita juga harus memberikan manfaat bagi banyak orang, bukan?

 

Sumber:

[Online] http://www.sariroti.com/content/tanggung-jawab-sosial-perusahaan/ diakses pada 15 November 2015

Kerusakan Makanan Kaleng

Saat kita pergi ke tempat perbelanjaan, apakah kita sering melihat makanan kaleng yang kemasannya berbeda dari yang lainnya? Sebenarnya apakah produk kalengan tersebut masih layak untuk kita beli? Penasaran seperti apa kerusakan pada produk kaleng?

rTLxGE8kc

Untuk lebih jelasnya, ayo kita simak kutipan ini:

Jenis Kerusakan

Tanda yang paling mudah untuk memnunjukkan adanya pembusukan makanan kaleng adalah penggembungan pada bagian ujung kaleng, biasanya terjadi melalui tingkat-tingkat flipper, springer, penggembungan yang lemah (soft swell) dan yang kuat (hard swell). Walaupun demikian, beberapa tipe pembusukan (seperti asam tawar) ditandai oleh bagian atas atau bawah kaleng yang tetap dalam posisi konkaf.

Bahan pangan dalam kaleng membusuk atau kelihatan membusuk sebagai hasil dari:

  1. Pengkaratan tinplate, terutama pada bahan pangan bersifat asam karena pelepasan hydrogen.
  2. Reaksi kimia, misalnya reaksi kecoklatan nonenzimatis (penggemungan karena karbon dioksida), pembebasan timah oleh nitar dan sebagainya.
  3. Operasi retort yang salah terutama selama pendinginan
  4. Exhausting yang kurang dan pengisisan yang berlebihan, akan membawa akibat berlebihnya tekanan selama pemanasan.
  5. Pertumbuhan mikroorganisme, sebagai akibat tidak adanya pemanasan atau pemanasan yang kurang sempurna, pembusukan bahan sebelum diolah, pencemaran sesudah diolah sebagai hasil dari lipatan kaleng yang cacat atau pendinginan yang kurang.
  6. Fluktuasi tekanan atmosfer

Penyebab utma dari kerusakan makanan kaleng di Australia adalah kurang sempurnanya pengolahan (underprocessing) dan pencemaran sesudah pengolahan seperti yang ditunjukkan dalam survey tentang pembusukan makanan kaleng komersial, yang dilakukan oleh bagian penelitian pangan CSIRO selama periode 1950-1977 (Murrel 1978).

20151115_074217

Diagnosa Kerusakan

Tujuan penelitian bahan pangan yang telah tercemar setelah penutupan dan pengolahan dalam wadah gelas atau logam kedap udara adalah:

  1. Untuk menentukan apakah wadah-wadah tersebut mengandung mikroorganisme.
  2. Untuk menentukan apakah mikroorganisme ini dapat hidup dan pemanasan yang dilakukan.
  3. Menduga penyebab kerusakan, misalnya pencemaran sesudah diolah, pengolahan yang kurang sempurna, pembusukan sebelum diolah, pembusukan kimiawi atau fisis atau pengisian berlebihan.

Teknik untuk menduga penyebab kerusakan dari bahan pangan yang diolah dengan pemanasan telah ditetapkan dengan baik dan terperinci yang dapat diperoleh dari National Canners Association (1968) dan FDA (1977).

[Buku Ilmu Pangan]

 

Bagaimana? Ayo kita lebih teliti lagi dengan produk kaleng…

 

Sumber:

  • Buckle, K.A., dkk. (1985). Ilmu Pangan. Jakarta: UI Press

 

Bagaimana Penilaian Mutu Telur?

chicken-and-egg-smallerIngin membeli telur? Atau ingin tahu bagaimana telur yang baik? Ternyata kita tidak perlu bingung bagaimana cara untuk mengetahui telur yang kita miliki baik atau tidak. Ayo kita cari tahu penjelasannya…

 

 

Simak dahulu kutipan ini:

Perubahan-perubahan yang terjadi selama penyimpanan telur utuh termasuk:

  1. Berkurangnya berat, terutama disebabkan karena hilangnya air dari albumen tetapi sebagian juga karena kehilangan CO2, NH3, N2, dan H2
  2. Pertambahan ukuran ruang udara. Karena air hilang, volume ruang udara bertambah.
  3. Penurunan berat jenis karena bertambah besarnya ruang udara
  4. Bercak-bercak pada permukaan kulit telur karena penyebaran air yang tidak merata.
  5. Penurunan jumlh putih telur tebal karena serat glikoprotein ovomucin pecah.
  6. Penambahan ukuran kuning telur karena perpindahan air dari albumen ke kuning telur sebagai akibat perbedaan tekanan osmose.
  7. Perubahan cita rasa
  8. Kehilangan karbondioksida
  9. Kenaikan pH, terutama dalam albumen yang meningkat dari kira-kira pH 7 sampai 10 atau 11 sebagai akibat hilangnya CO2

20151115_062322

Mutu telur utuh dinilai secara candling yaiu dengan meletakkan telur dalam jalur sorotan sinar yang kuat sehingga memungkinkan pemeriksaan bagian dalam dengan candling. Ini memungkinkan penenmuan keretakan pada kulit telur, ukuran serta gerakan kuning telur, ukuran kantong udara, bintik-bintik darah, bintik-bintik daging, kerusakan oleh mikroorganisme dan pertumbuhan benih. Walaupun begitu, hanya kerusakan yang menonjol saja yang dapat diketahui dengan cara candling ini.

Mutu telur tanpa kulit dapat dinilai dengan cara yang lebih pasti karena banyak kerusakan oleh mikroorganisme dan lain-lainnya dapat diamati dengan lebih jelas. Lagipula, bertambah besarnya kuning telur dapat diamati dan indeks kuning telur dapat diukur.

Indeks kuning telur adalah perbandingan tinggi kuning telur dengan garis tengahnyayang diukur sesudah sesudah kuning telur dipisahkan dengan putih telur. Indeks kuning telur beragam anatara 0,33 dan 0,50 dengn nilai rata-rata 0,42. Dengan bertambahnya umur telur, indeks kuning telur menurun karena penambahan ukuran kuning telur sebagai perpindahan air.

Indeks putih telur merupakan parameter yang serupa yaitu perbandingan tinggi albumen tebal dengan rata-rata garis tengah panjang dan pendek albumen tebal. Dalam telur yang baru ditelurkan nilai ini berkisar antarar 0,050 dan 0,174, meskipun biasanya berkisar antara 0,090 dan 0,120. Indeks putih telur juga menurun karena penyimpanan.

Mungkin indeks mutu telur yang terbaik adalah indeks Haugh, yang namanya diambil dari pengusulnya. Indeks ini dihitung dengan rumus berikut:

20151115_062303

Untuk telur yang beru ditelurkan H=100, sedangkan untuk telur dengan mutu terbaik, nilainya 75. Telur yang bususk nilainya dibawah 50.

[Buku Ilmu Pangan]

 

Nah, sudah tahu caranya? Jadi kita tidak perlu bingung, bukan?

 

Sumber:

  • Buckle, K.A., dkk. (1985). Ilmu Pangan. Jakarta: UI Press

 

Sayuran dan Buah, Bagaimana Kemasannya?

Bagaimana kemasan untuk produk yang kita hasilkan? Kemasan selain untuk menjaga produk, dapat juga untuk menarik perhatian konsumen. Namun, kemasan seperti apakah yang baik untuk sayur dan buah?

sayur-dan-buah

Berikut merupakan kutipannya:

Film kemasan yang cocok untuk penyimpanan buah-buahan dan sayuran, terutama untuk pembentukan atmosfer di dalam kemasan adalah film yang lebih permeable terhadap O2 daripada terhadap CO2 (Hall et al, 1975). Biasanya film-film yang tersedia di pasaran lebih permeable terhadap CO2 daripada terhadap O2, hal ini menyebabkan laju akumulasi CO2 dari respirasi lebih sedikit dibandingkan laju penyusutan O2. Dalam kemasan yang rapat semua O2 bebas dalam waktu singkat akan terpakai habis, pernapasan menjadi anaerobik dan akan terbentuk zat-zat menguap seperti alkohol dan CO2.

20151114_165650

Polietilen (PE) mempunyai permeabilitas yang cukup besar, namun pada umumnya kurang cocok digunakan sebagai bahan kemasan yang tertutup rapat. Film-film yang lebih permeable seperti selulosa asetat dan polivinilklorida (PVC), permeabilitasnya masih belum mencukupi untuk dapat digunakan sebagai bahan pengemas yang tertutup rapat, terutama untuk komoditas yang berespirasi pada suhu tinggi. Untuk menghindarkan kemungkinan kerusakan akibat akumulasi CO2 dan penyusutan O2 atau kemungkinan timbulnya bau dan rasa yang tidak dikehendaki, film-film harus dilubangi (Hardenberg, 1954; Pantastico, 1975).

Penggunaan kemasan film dalam penyimpanan udara termodifikasi yang menguntungkan melalui respirasi produk yang dikemas, terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan. Di antaranya adalah suhu, kelembaban dan waktu selama produk berada dalam kemasan yang berada dalam kemasan yang dipengaruhi oleh lingkungan di dalam kemasan. Selain itu jenis dan berat produk yang dikemas merupakan faktor yang tidak boleh diabaikan. Jenis dan tebalnya film, cara pembuatan dan cara penutupan juga mempengaruhi kandungan CO2 dan O2 di dalam kemasan. Keadaan produk yang disimpan merupakan faktor yang amat penting pula, karena tiap produk mempunyai toleransi yang berbeda terhadap penerimaan O2 dan kenaikan CO2.

Secara umum terdapat syarat-syarat yang diperlukan dalam kemasan. Syarat-syarat itu antara lain: ukuran dan bentuk kemasan harus disesuaikan dengan cara penanganan dan pemasarannya, bahan kemasan tidak mengandung bahan kimia yang dapat bereaksi dengan bahan yang dikemas atau mengandung racun yang dapat membahayakan konsumen, sifat-sifat permeabilitas kemasan plastik dan laju kegiatan pernapasan bahan kemas harus sesuai dengan bahan yang dikemas.

Sumber: Buku Teknologi Penyimpanan Pangan.

 

Kutipan diatas merupakan penjelasannya, apakah kita telah tepat selama ini?

 

Sumber:

  • Syarief, Rizal. & Halid, Hariyadi. (1991). Teknologi Penyimpanan Pangan. Jakarta: Arcan

Atmosfer pada Penyimpanan Sayur dan Buah

Atmosfer? Penyimpanan buah dan sayur? Ya, biasanya metode untuk penyimpanan buah dan sayur yang kita lakukan adalah dengan memanfaatkan suhu rendah. Namun ternyata ada juga yang memanfaatkan atmosfer? Seperti apa itu?

buah-dan-sayur

Kita simak dahulu kutipannya:

Penyimpanan dengan Pengendalian Atmosfer

Penyimpanan dengan pengendalian atmosfer dapat diartikan sebagi suatu teknik atau cara penyimpanan dimana atmosfer di sekeliling produk ditur konsentrasinya. Pengaturan ini terutama ditekankan pada konsentrasi gas O2 dan CO2, yaitu konsentrasi CO2 dinaikkan sedangkan O2 diturunkan yang disertai pengontrolan udara di sekeliling produk secara terus-menerus oleh peralatan khusus.

Skema respirasi kesetimbangan gas di dalam penyimpanan dengan pengendalian atmosfer
Skema respirasi kesetimbangan gas di dalam penyimpanan dengan pengendalian atmosfer

Dari gambar dapat dilihat bahwa konsentrasi CO2, O2, dan N2 diatur melalui filter khusus dan dibantu oleh “srubber” dan generator gas. Gas CO2, O2, dan N2 terus-menerus diatur oleh kedua alat tersebut dimana bila terjadi ketidaksetimbangan hal tersebut langsung dapat diatasi. Berbeda dengan cara penyimpanan dengan modifikasi atmosfer yang pertukaran gasnya hanya melalui lubang-lubang yang terdapat dalam pengemas, dengan pengendalian atmosfer lebih dapat diketahui pola respirasi dari produk yang dikemas karena konsentrasi gas di sekeliling produk terus dikontrol dan dipantau.

 

Penyimpanan dengan Modifikasi Atmosfer

Teknik modifikasi udara (MAS) merupakan suatu cara penyimpanan dimana tingkat konsentrasi O2 lebih rendah dan tingkat konsentrasi CO2 lebih tinggi, bila dibandingkan dengan udara normal. Hal ini dapat dicapai dengan pengaturan melalui kemasan. Pengaturan pengemasan akan menghasilkan kondisi tertentu melalui interaksi beberapa penyerapan dan pernapasan buah atau sayuran yang disimpan (Do dan Salunke, 1975). Pada prakteknya ada dua macam penyimpanan modifikasi atmosfer yaitu cara pasif dan cara aktif. Dalam MAS pasif, kesetimbangan antara CO2 dan O2 didapat melalui pertukaran udara di dalam kemasan melalui film kemasan. Jadi kesetimbangan yang diinginkan tidak dikontrol pada awalnya, melainkan hanya mengandalkan permeabilitas dari kemasan yang digunakan. Sedangkan MAS aktif adalah penyimpanan dengan modifikasi atmosfer di mana udara di dalam kemasan pada awalnya dikontrol dengan cara menarik semua udara di dalam kemasan untuk kemudian diisi kembali dengan udara dan konsentrasi yang telah diatur dengan menggunakan alat, sehingga kesetimbangan langsung tercapai. Dalam penyimpanan modifikasi atmosfer permeabilitas kemasan memegang peranan penting karena pertukaran gas terjadi lewat kemasan yang digunakan.

 

Perbedaan antara pengendalian atmosfer dengan modifikasi atmosfer terletak pada pengontrolan yang dilakukan. Pada penyimpanan dengan modifikasi atmosfer tidak dilakukan pengontrolan terhadap udara di sekeliling produk, karena susunan udara tersebut dibiarkan berubah secara alami dengan bantuan verntilasi dan bahan pengemas.

Pada penyimpanan dengan pengendalian atmosfer, udara di sekeliling produk terus- menerus dikontrol baik melalui ventilasi bahan pengemas atau ruangan penyimpanan maupun dengan menggunakan alat.

Sumber: Buku Teknologi Penyimpanan Pangan.

 

Bagaimana? Cara penyimpanan yang menarik, bukan?

 

Sumber:

  • Syarief, Rizal. & Halid, Hariyadi. (1991). Teknologi Penyimpanan Pangan. Jakarta: Arcan

Tataniaga Susu

Masih bingung hasil produksi susu kita kemana? Atau masih bingung ingin mengolah susu murni tapi tidak punya peternakan? Untuk lebih jelasnya, yukk, kita perhatikan tataniaga susu sapi perah..

Susu

Kutipan mengenai tataniaga:

Susu yang diproduksi di Indonesia (produksi dalam negeri), dihasilkan oleh dua tipe usaha ternak sapi perh. Tipe pertama yaitu usaha ternak sapi perah rakyat yang berskala usaha kecil dan berlokasi di sekitar kota besar atau juga di pedesaan.

Kedua tipe usaha tersebut harus memasarkan hampir seluruh produksi susunya ke kota karena sebagian besar konsumen susu segar berada di kota-kota, terutama di kota-kota besar. Seperti halnya pada pemasaran ternak dari telur, susu pun untuk sampai pada konsumen umumnya harus melalui beberapa tataniaga. Dalam hal ini, pada garis besarnya ada lima tataniaga susu, yaitu:

Koperasi Peternak Sapi Perah

Merupakan suatu badan usaha yang didirikan oleh dan beranggotakan para petrenak (khususnya peternak sapi perah rakyat), yang berlokasi di daerah pusat peternakan sapi perah rakyat. Kegiatan usahanya yaitu menampung susu dari anggotanya, dan menyalurkan kepada lembaga tataniaga lainnya, seperti “milk centre”, konsumen baik lokal maupun daerah. Di samping itu, koperasi ini berusaha pula untuk menyediakan kebutuhan anggotanya, baik untuk keluarga peternak maupun peternakannya.

Milk Centre

Di beberapa daerah Milk Centre ini dinamakan pula Pusat Susu. Adapun yang dimaksud adalah susu badan milik pemerintah yang berfungsi sebagai penampung dan penyalur susu. Milk Centre (M.C.) ini biasanya dilengkapi oleh alat pendingin (cooling unit) untuk menyimpan (mengawetkan) susu sebelum disalurkan ke konsumen. Selain alat pendingin, M.C ini juga memiliki peralatan dan fasilitas lain untuk pengawetan dan pengolahan susu. Oleh karena itu, selain memasarkan susu segar, biasanya memasarkan juga susu bentuk lain, seperti ice cream, Yoghurt, susu manis, menteg, dan lain-lain. M.C. menyalurkan susu atau hasil pengolahannya kepada konsumen langsung, atau melalui agen dan loper.

Collecting Centre (C.C.)

Merupakan usaha perorangan yang menampung susu dari petrenak dan menyalurkannya ke konsumen melalui koperasi, M.C., atau agen.

Agen Susu

Merupakan usaha perorangan yang menampung susu baik dari petrenak maupun dari pelaku tataniaga yang lain dan menyalurknannya langsung ke konsumen atau loper.

Loper

Penyalur susu dari pelaku tataniaga yang lain ke konsumen. Loper ini ada yang berdiri sendiri da nada pula yang merupakan pegawai yang diupah ( digaji) oleh lemaga diatasnya.

Keadaan saluran tataniaga susu pada suatu daerah dibandingkan daerah yang lain umumnya tidak sama. Perbedaan tersebut terutama dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut:

  • Jarak dari daerah produsen dengan pusat-pusat konsumen.
  • Jumlah tataniaga yang melibatkan diri (ikut memegang peranan) dalam kegiatan tersebut.

Sumber: Buku Pendidikan Keterampilan Peternakan II untuk SPG

 

Bagaimana? Setelah menyimak apakah ada yang ingin mengunjungi tataniaga diatas? Atau ada yang ingin menjadi anggota? Bagaimana pun peran kita terhadap tataniaha diatas. Ayo kita sukseskan bersama agar perekonomian dan peternakan Indonesia semakin maju.

 

Sumber:

  • Atmadja, J.M. & Karwapi. E. (1979). Pendidikan Keterampilan Peternakan II untuk SPG. Jakarta: CV Kurnia Esa

Go Green? Jangan Hiraukan Limbah!

Siapa yang mempunyai industri? Ingin punya industri? Atau tidak ingin mempunyai industri karena bumi kita tercinta ini perlu dijaga? Ya, bumi dan alam kita memang harus dijaga. Sedangkan terkadang tak bisa kita bilak tidak jika industri ini sering dikaitkan dengan salah satu penyebab pencemaran. Memang suatu industri menghasilkan produk yang berguna bagi kita. Namun dibalik produk itu, ternyata ada limbah yang dihasilkan. Ingat dengan salah satu film animasi Walt Disney Pictures dan Pixar? Ya, ‘WALL-E”! Bagimana jika bumi kita menjadi korban pencemaran yang dilakukan oleh kita sendiri? Bukankah ini tempat tinggal kita?

WALL-E
Film Animasi WALL-E

Berikut merupakan sekilas info mengenai limbah yang telah dikutip:

Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Di mana masyarakat bermukim, di sanalah berbagai jenis limbah akan dihasilkan. Ada sampah, ada air kakus (black water), dan ada air buangan dari berbagai aktivitas domestik lainnya (grey water).

Limbah padat lebih dikenal sebagai sampah, yang seringkali tidak dikehendaki kehadirannya karena tidak memiliki nilai ekonomis. Bila ditinjau secara kimiawi, limbah ini terdiri dari bahan kimia Senyawa organik dan Senyawa anorganik. Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah. Tingkat bahaya keracunan yang ditimbulkan oleh limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah.

Pengolahan

Beberapa faktor yang memengaruhi kualitas limbah adalah volume limbah, kandungan bahan pencemar, dan frekuensi pembuangan limbah. Untuk mengatasi limbah ini diperlukan pengolahan dan penanganan limbah. Pada dasarnya pengolahan limbah ini dapat dibedakan menjadi:

  1. pengolahan menurut tingkatan perlakuan
  2. pengolahan menurut karakteristik limbah

Untuk mengatasi berbagai limbah dan air limpasan (hujan), maka suatu kawasan permukiman membutuhkan berbagai jenis layanan sanitasi. Layanan sanitasi ini tidak dapat selalu diartikan sebagai bentuk jasa layanan yang disediakan pihak lain. Ada juga layanan sanitasi yang harus disediakan sendiri oleh masyarakat, khususnya pemilik atau penghuni rumah, seperti jamban misalnya.

  1. Layanan air limbah domestik: pelayanan sanitasi untuk menangani limbah Air kakus.
  2. Jamban yang layak harus memiliki akses air bersih yang cukup dan tersambung ke unit penanganan air kakus yang benar. Apabila jamban pribadi tidak ada, maka masyarakat perlu memiliki akses ke jamban bersama atau MCK.
  3. Layanan persampahan. Layanan ini diawali dengan pewadahan sampah dan pengumpulan sampah. Pengumpulan dilakukan dengan menggunakan gerobak atau truk sampah. Layanan sampah juga harus dilengkapi dengan tempat pembuangan sementara (TPS), tempat pembuangan akhir (TPA), atau fasilitas pengolahan sampah lainnya. Di beberapa wilayah pemukiman, layanan untuk mengatasi sampah dikembangkan secara kolektif oleh masyarakat. Beberapa ada yang melakukan upaya kolektif lebih lanjut dengan memasukkan upaya pengkomposan dan pengumpulan bahan layak daur-ulang.
  4. Layanan drainase lingkungan adalah penanganan limpasan air hujan menggunakan saluran drainase (selokan) yang akan menampung limpasan air tersebut dan mengalirkannya ke badan air penerima. Dimensi saluran drainase harus cukup besar agar dapat menampung limpasan air hujan dari wilayah yang dilayaninya. Saluran drainase harus memiliki kemiringan yang cukup dan terbebas dari sampah.
  5. Penyediaan air bersih dalam sebuah pemukiman perlu tersedia secara berkelanjutan dalam jumlah yang cukup, karena air bersih memang sangat berguna di masyarakat

 

Limbah Industri

Berdasarkan karakteristiknya limbah industri dapat dibagi menjadi empat bagian, yaitu:

  1. Limbah cair biasanya dikenal sebagai entitas pencemar air. Komponen pencemaran air pada umumnya terdiri dari bahan buangan padat, bahan buangan organik dan bahan buangan anorganik
  2. Limbah padat
  3. Limbah gas dan partikel

Proses Pencemaran Udara Semua spesies kimia yang dimasukkan atau masuk ke atmosfer yang “bersih” disebut kontaminan. Kontaminan pada konsentrasi yang cukup tinggi dapat mengakibatkan efek negatif terhadap penerima (receptor), bila ini terjadi, kontaminan disebut cemaran (pollutant).Cemaran udara diklasifihasikan menjadi 2 kategori menurut cara cemaran masuk atau dimasukkan ke atmosfer yaitu: cemaran primer dan cemaran sekunder. Cemaran primer adalah cemaran yang diemisikan secara langsung dari sumber cemaran. Cemaran sekunder adalah cemaran yang terbentuk oleh proses kimia di atmosfer.

Sumber cemaran dari aktivitas manusia (antropogenik) adalah setiap kendaraan bermotor, fasilitas, pabrik, instalasi atau aktivitas yang mengemisikan cemaran udara primer ke atmosfer. Ada 2 kategori sumber antropogenik yaitu: sumber tetap (stationery source) seperti: pembangkit energi listrik dengan bakar fosil, pabrik, rumah tangga, jasa, dan lain-lain dan sumber bergerak (mobile source) seperti: truk, bus, pesawat terbang, dan kereta api.

Lima cemaran primer yang secara total memberikan sumbangan lebih dari 90% pencemaran udara global adalah:

  1. Karbon monoksida (CO),
    b. Nitrogen oksida (Nox),
    c. Hidrokarbon (HC),
    d. Sulfur oksida (SOx)
    e. Partikulat.

Selain cemaran primer terdapat cemaran sekunder yaitu cemaran yang memberikan dampak sekunder terhadap komponen lingkungan ataupun cemaran yang dihasilkan akibat transformasi cemaran primer menjadi bentuk cemaran yang berbeda. Ada beberapa cemaran sekunder yang dapat mengakibatkan dampak penting baik lokal,regional maupun global yaitu:

  1. CO2 (karbon dioksida),
    b. Cemaran asbut (asap kabut) atau smog (smoke fog),
    c. Hujan asam,
    d. CFC (Chloro-Fluoro-Carbon/Freon),
    e. CH4 (metana).

https://id.wikipedia.org/wiki/Limbah

 

Nah, bagaimana? Ternyata limbah itu penting untuk diperhatikan. Kita harus menggalakkan kembali go green. Tapi apakah kita berhenti untuk menjalankan industri? Tidak, kita dapat terus menjalankan industri. Namun apakah kita akan menghiraukan limbahnya? Limbah merupakan hal yang patut untuk kita perhatikan, bukan?

 

Sumber:

  • Bergerak Bersama Dengan Strategi Sanitasi Kota. Diterbitkan oleh Tim Teknis Pembangunan Sanitasi: BAPPENAS, Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Dalam Negeri, Departemen Kesehatan, Departemen Perindustrian, Departemen Keuangan, dan Kementrian Negara Lingkungan Hidup. 2008. Hal 3 [Online] https://id.wikipedia.org/wiki/Limbah diakses pada 14 November 2015
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Limbah

Kilas Sosok

Tertarik dengan agroindustri maupun teknologi hasil pertanian? Yukk, kita cari tahu lebih banyak lagi dan membuat suatu produk! Walaupun sedikit, tapi mungkin saja dapat bermanfaat untuk diri kita… Atau bahkan lebih dari hal yang kita pikirkan sebelumnya, bagaimana jika produk yang kita hasilkan menjelajah dan dapat berguna bagi banyak orang? Bukankah itu hal yang sangat baik? Masih ragu apakah kita bisa atau tidak? Lebih baik kita simak saja cerita dibalik salah satu tokoh ini..

Berikut merupakan cerita salah satu sosok yang telah dikutip:

Bapak Ayub S. Parnata
Bapak Ayub S. Parnata

Walau usia sudah mencapai 72 tahun, Ayub S. Parnata, penemu bakteri pupuk kompos organik seakan tak pernah kehilangan semangat. Di tengah kesibukannya mengurus anggrek, setiap bulannya ia rutin mengirim minimal 2 kontainer pupuk organik ke Cina. Jumlah itu masih ditambah dengan ½ kontainer untuk melayani permintaan dalam negri. Kalau dihitung-hitung, sekitar 64 ton pupuk cair disalurkan tiap bulan. Bersama mitra kerja asal Hongkong, Ayub mempunyai pabrik peracikan pupuk di Cina Selatan. Di sana, biang pupuk organik yang dibuat di Indonesia diubah menjadi pupuk siap pakai. Lalu dieskpor kembali ke beberapa negara di Asia, Australia dan Amerika Serikat. Di Asia, pelanggannya datang dari Filipina, Thailand, Malaysia, Vietnam dan Mongolia. Permintaan konsumen terus meningkat. Peningkatan 100% per tahun untuk pasaran luar negri dan 20% dalam negri.

Keberhasilan itu bukan datang sendiri layaknya bintang jatuh. Kisahnya dimulai 1960. Saat itu, Ayub mencoba bercocok tanam jagung. Sayang produksinya amat minim, tidak sampai 750 kg/ha. Kenyataan ini menggelitik lulusan Hogere Burgerschool itu untuk meneliti penyebabnya. Hasil pengamatannya menunjukkan, penyebab produksi minim karena efek samping penggunaan kimia dari pupuk yang tidak terserap efektif oleh tanaman sehingga hanya tersimpan di dalam tanah. Untuk menguraikan lagi, harus dengan bantuan jasad renik. Dari hasil analisis, diketahui pada tanah subur selalu ditemukan Pseudomonas putida dan Pseudomonas fluorescens. Dua jasad renik itulah yang harus didapatkan untuk dimasukkan ke tanah yang rusak. Pencarian jenis jasad renik itulah yang memakan waktu lama. Mencari di alam hingga membiakkan dengan media agar (jel) bukanlah proses mudah. “Seperti orang buta yang mencari-cari, tanpa ada satu buku pun yang menuntun”, ujar Ayub melukiskan betapa sulitnya pencarian itu.

Sumber: http://pecahbanget.com/tokoh-di-bidang-pertanian-indonesia/

 

Bagaimana? Tertarik untuk mengikuti jejak tokoh yang telah kita simak bersama? Selain bapak Ayub S. Parnata, masih banyak juga tokoh yang dapat menginspirasi kita. Kita mempunyai batas waktu untuk berada di dunia ini. Lalu bagaimana? Salah satunya dengan berkarya. Yukk, berkarya, buktikan jika kita pernah ada di dunia ini dan kita tinggalkan jejak kita disini.

 

Sumber:

[Online] http://pecahbanget.com/tokoh-di-bidang-pertanian-indonesia/ diakses pada 10 November 2015